Kamis, 03 Juni 2010

PERKEMBANGAN PRIMER INDIVIDU DEWASA

PERKEMBANGAN PRIMER
INDIVIDU DEWASA

A. Pendahuluan
Di Indonesia batas kedewasaan adalah 21 tahun. Hal ini berarti bahwa pada usia itu seseorang sudah dianggap dewasa dan selanjutnya dianggap sudah mempunyai tanggungjawab terhadap perbuatan-perbuatannya. Ia mendapatkan hak-hak tertentu sebagai orang dewasa, misalnya hak untuk memilih dewan perwakilan rakyat, dapat menikah tanpa wali dan sebagainya. Tanggung jawab terhadap perbuatannya tadi berarti pula bahwa ia sudah dapat dikenai sanksi-sanksi pidana tertentu apabila ia melanggar peraturan hukum yang ada. Ditinjau dari segi ini maka arti kedewasaan disinipun mengandung arti yuridis dan sosiologis.
Masa dewasa adalah periode yang paling penting dalam masa khidupan, masa ini dibagi dalam 3 periode yaitu: Masa dewasa awal dari umur 21,0 sampai umur 40,0. Masa dewasa pertengahan, dari umur 40,0 sampai umur 60,0. dan masa akhir atau usia lanjut, dari umur 60,0 sampai mati.
Sebagai cirri khas anak muda diantara masa pubertas fisik dan kedewasaan yuridis-sosial, adalah bahwa dia dapat mewujudkan dirinya sendiri. Pada waktu ini anak muda membebaskan dirinya dari lindungan orang tua. Hal ini tidak hanya berrti bahwa ia dalam usahanya untuk berdiri sendiri, mencoba untuk membebaskan dirinya dari pengaruh kekuasaan orangtua, baik dalam segi afektif maupun dalam segi ekonomi seperti halnya pada remaja yang bekerja. Hal ini berarti bahwa remaja secara mental tidak suka lagi menurut pada orangtuanya. Di Indonesia sikap ingin membebaskan dirinya dari generasi tua ini mungkin masih disertai oleh sikap hormat dan menjaga distansi antara orang muda dan orang tua sesuai dengan norma-norma yang dipercaya. Tetapi bagaimanapun juga keinginan untuk berdiri sendiri dan mewujudkan dirinya sendiri ini merupakan kecenderungan yang ada pada setiap anak muda.
Pada batas dewasa awal dikemukakan bahwa masa dewasa tidak terlalu jelas berbeda dari masa remaja. Masa remaja dipandang dari teori tugas perkembangan serta teori emansipasi dapat merupakan periode tersendiri yaitu periode menuju kearah kebebasan masa dewasa, dalam masa ini keadaan fisik dan sekolah sudah tidak merupakan pusat perhatian lagi, maka permasalahan pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat merupakan tugas-tugas sentral yang mendapatkan perhatian khusus.
Persoalan mengenai faktor-faktor apakah yang memungkinkan atau mempengaruhi perkembangan, dijawab oleh para ahli dengan jawaban yang berbeda-beda. Para ahli yang beraliran “Nativisme” berpendapat bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawaan. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Scopenhauer.
Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahli yag mengikuti aliran “Empirisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan, sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Aliran empririsme ini menjadikan faktor lingkungan/pembawaan maha kuasa dalam menentukan perkembangan seseorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke.
Aliran yang tampak menengahi kedua pendapat aliran yang ekstrim di atas adalah aliran “Konvergensi” dengan tokohnya yang terkenal adalah Willian Stern. Menurut aliran Konvergensi, perkembangan individu itu sebenarnya ditentukan oleh kedua kekuatan tersebut. Baik faktor dasar/pebawaan maupun factor lingkungan/pendidikan keduanya secara convergent akan menentukan/ mewujudkan perkembangan seseorang individu. Sejalan dengan pendapat ini, Ki Hajar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional juga mengemukakan adanya dua faktor yang mempengaruhi perkembangan individu yaitu faktor dasar/pembawaan (faktor internal) dan faktor ajar/lingkungan (faktor eksternal).
Manurut Elizabeth B. Hurlock, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, terlebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting. Tetapi bailklah beberapa diantara faktor faktor-faktor tersebut ditinjau:
1. Intelligensi
Intellegensi merupakan faktor yang terpenting. Kecerdasan yang tinggi disertai oleh perkembangan yang cepat, sebaliknya jika kecerdasan rendah, maka anak akan terbelakang dalam pertumbuhan dan perkembangan. Berdasarkan penelitian Terman LM (Genetic studies of Genius) dan Mead TD (The age of walking and talking in relation to general intelligence) telah dibuktikan adanya pengaruh intellegensi terhadap tempo perkembangan anak terutama dalam perkembangan berjalan dan berbicara.
2. Seks
Perbedaan perkembangan antara kedua jenis seks tidak tampak jelas. Yang nyata kelihatan adalah kecepatan dalam pertumbuhan jasmaniyah. Pada waktu lahir anak laki-laki lebih besar dari perempuan, tetapi anak perempuan lebih cepat perkembangannya dan lebih cepat pula dalam mencapai kedewasaannya dari pada anak laki-laki. Anak perempuan pada umumnya lebih cepat mencapai kematangan seksnya kira-kira satu atau dua tahun lebih awal dan pisiknya juga tampak lebih cepat besar dari pada anak laki-laki. Hal ini jelasa pada anak umur 9 sampai 12 tahun.
3. Kelenjar-kelenjar
Hasil penelitian di lapangan indoktrinologi (kelenjar buntu) menunjukkan adanya peranan penting dari sementara kelenjar-kelenjar buntu ini dalam pertumbuhan jasmani dan rohani dan jelas pengaruhnya terhadap perkembangan anak sebelum dan sesudah dilahirkan.
4. Kebangsaan (ras)
Anak-anak dari ras Meditarian (Lautan tengah) tumbuh lebih cepat dari anak-anak eropa sebelah timur. Amak-anak negro dan Indian pertumbuhannya tidak terlalu cepat dibandingkan dengan ank-anak kulit putih dan kuning.
5. Posisi dalam keluarga
Kedudukan anak dalam keluarga merupakan keadaan yang dapat mempengaruhi perkembangan. Anak kedua, ketiga, dan sebagainya pada umumnya perkembangannya lebih cepat dari anak yang pertama. Anak bungsu biasanya karena dimanja perkembangannya lebih lambat.
Dalam hal ini anak tunggal biasanya perkembangan mentalitasnya cepat, karena pengaruh pergaulan dengan orang-orang dewasa lebih besar.
6. Makanan
Pada tiap-tiap usia terutama pada usia yang sangat muda, makanan merupakan faktor yang penting peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan. Bukan saja makanannya, tetapi isinya yang cukup banyak mengandung gizi yang terdiri dari pelbagai vitamin. Kekurangan gizi/vitamin dapat menyebabkan gigi runtuh, penyakit kulit dan lain-lain penyakit.
7. Luka dan penyakit
Luka dan penyakit jelas pengaruhnya kepada perkembangan, meskipun terkadang hanya sedikit dan hanya menyangkut perkembangan fisik saja.
8. Hawa dan sinar
Hawa dan sinar pada tahun-tahun pertama merupakan faktor yang penting. Terdapat perbedaan antara anak-anak yang kondisi lingkungannya baik dan yang buruk.
9. Kultur (budaya)
Penyelidikan Dennis di kalangan orang-orang Amerika dan Indiana menunjukan bahwa sifat pertumbuhan anak-anak bayi dari kedua macam kultur adalah sama. Ini menguatkan pendapat bahwa sifat-sifat anak bayi itu adalah universal dan bahwa budayalah yang kemudian merubah sejumlah dasar-dasar tingkah laku anak dalam proses perkembangannya. Yang termasuk faktor budaya disini selain budaya masyarakat juga di dalamnya termasuk pendidikan, agama, dsb.
B. Pembahasan
Pendapat para Ahli mengenai periodisasi perkembangan yang bermacam-macam dapat digolongkan dalam tiga bagian, yaitu:
1. Periodisasi yang berdasar biologis.
Periodisasi atau pembagian masa-masa perkembangan ini didasarkan kepada keadaan atau proses biologis tertentu. Pembagian Aristoteles didasarkan atas gejala pertumbuhan jasmani yaitu antara fase satu dan fase kedua dibatasi oleh pergantian gigi, antara fase kedua dengan fase ketiga ditandai dengan mulai bekerjanya kelenjar kelengkapan kelamin.
2. Periodisasi yang berdasar psikologis.
Tokoh utama yang mendasarkan periodisasi ini kepada keadaan psikologis ialah Oswald Kroch. Beliau menjadikan masa-masa kegoncangan sebagai dasar pembagian masa-masa perkembangan, karena beliau yakin bahwa masa kegoncangan inilah yang merupakan keadaan psikologis yang khas dan dialami oleh setiap anak dalam masa perkembangannya.
3. Periodisasi yang berdasar didaktis.
Pembagian masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh Harvey A. Tilker, PhD dalam “Developmental Psycology to day”(1975) dan Elizabeth B. Hurlock dalam “Developmental Psycology”(1980) tampak sudah lengkap mencakup sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakikat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati. pembagian periodisasi individu dewasa sebagai berikut:
a. Masa Dewasa Awal (Early Adulthood).
Masa dewasa awal ini berlangsung dari umur dua puluh satu tahun sampai umur empat puluh tahun. Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas san penyesuaian diri pada pola hidup yang baru.
b. Masa Dewasa madya ( Middle Adulthood).
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai umur enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa ini antara lain:
1) Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat dari seluruh kehidupan manusia.
2) Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru.
3) Masa dewasa madya adalah masa berprestasi. Menurut Erikson, selama usia madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (stagnasi).
4) Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
c. Masa Usia Lanjut ( Later Adulthood).
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang di tandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.

Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan.
Adapun yang menjadi sumber dari pada tugas-tugas perkembangan tersebut menurut Havighurst adalah: Kematangan pisik, tuntutan masyarakat atau budaya dan nilai-nilai dan aspirasi individu. Pembagian tugas-tugas perkembangan untuk masing-masing fase dari sejak masa bayi sampai usia lanjut. Tugas perkembangan individu dewasa adalah sebagai berikut:
1. Masa Dewasa Awal
a. Mulai bekerja
b. Memilih pasangan hidup
c. Belajar hidup dengan suami/istri
d. Mulai membentuk keluarga
e. Mengasuh anak
f. Mengelola/mengemudikan rumah tangga
g. Menerima/mengambil tanggung jawab warga Negara
h. Menemukan kelompok sosial yang menyenangkan
2. Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya
a. Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
b. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
c. Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
d. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
e. Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa
f. Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.


3. Masa Usia Lanjut ( Later Adulthood).
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang di tandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.

C. Penutup
Perkembangan primer individu dewasa dibagi ke dalam 3 masa, yaitu:
1. Dewasa awal: Awal 21 hingga 40 tahun. Masa pengukuhan pribadi, ekonomi dan memulai hidup berkeluarga.
2. Dewasa Madya: 40 sampai 60 tahun. Menjadi matang dan memperoleh kepuasan kerja.
3. Dewasa akhir: 60 atau 70-an hingga meninggal dunia. Terbagi menjadi dua masa yaitu tua awal (65-74 tahun) dan tua akhir (75 tahun ke atas).
Dalam surat Al Hasyr ayat 18 Allah berfirman :
       •    •   •     
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Sebagai individu muslim hendaknya selalu berpegang pada syariah Islam antara lain memahami bahwa:
a. Manusia adalah khalifah Allah (mengurus dan mentadbir alam) menuju kesejahteraan
b. Manusia yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa & berakhlak mulia
c. Setiap manusia mempunyai nasib tersendiri (Qada’ dan Qadar)
d. Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah
e. Setiap manusia akan diberi pembalasan di hari akhirat
f. Kehidupan di dunia bersifat sementara. Kehidupan abadi (tanpa kematian) adalah di akhirat.
Dalam setiap perkembangannya hendaknya menusia selalu mengikuti Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW agar selamat dunia dan akhirat.

Wallahua’lam Bishowab.

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DINASTI UMAYYAH

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DINASTI UMAYYAH
A. PENDAHULUAN
Dinasti bani umayyah adalah sebuah rezim pemerintahan Islam yang berada di bawah kekuasaan keluarga umayyah yang berlangasung dari tahun 661 sampai dengan tahun 750 M. Pendiri dinasti ini adalah Muawiyah (661-680), putra Abu Sufyan yang pernah menentang Rasulullah SAW, tetapi kemudian masuk Islam setelah kota Mekah ditakhlukkan oleh pasukan Islam dari Madinah. Pada mulanya, Muawiyah adalah gubernur Syria yang berkedudukan di Damaskus. Ia memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, hingga Ali wafat dibunuh oleh orang Khawarij. Pengikut Ali kemudian mengangkat Hasan, putra sulung Ali bin Abi Thalib, sebagai khalifah baru, tetapi hasan tidak ingin berkonflik dengan Muawiyah, lalu mengikat perjanjian damai dengan pihak Muawiyah yang pada akhirnya Muawiyah menjadi penguasa tunggal masyarakat Muslim waktu itu. Keluarga Hasan hidup mengasingkan diri sebagai orang biasa, tatapi kaum Umayyah terus memburunya dan pada akhirnya hasan wafat karena diracun. Muawiyah Ibn Abi Sufyan memindahkan ibukota Negara deri Madinah ke Damaskus, Syria, tempat ia berkuasa tatkala menjadi gubernur. Ia juga mengganti system pemerintahan dari system demokrasi ke system monarki. )
Adapun bentuk pemerintahannya adalah berbentuk kerajaan, kekuasaan bersifat feodal (penguasaan tanah/daerah/wilayah, atau turun menurun). Untuk mempertahankan kekuasaan, khilafah berani bersikap otoriter, adanya unsure kekerasan, diplomasi yang diiringi dengan tipu daya, serta hilangnya musyawarah dalam pemilihan khilafah. Umayyah berkuasa kurang lebih selama 91 tahun. Reformasi cukup banyak terjadi, terkait pada bidang pengembangan dan kemajuan pendidikan Islam. Perkembangan ilmu tidak hanya dalam bidang agama semata melainkan juga dalam aspek teknologinya. )
Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam pada masa ini berjalan seperti di zaman permulaan Islam, hanya ada sedikit peningkatan sesuai dengan perkembangan Daulah Islamiyah sendiri. Faktor yang menyebabkan kurang pesatnya perkembangan ilmu-ilmu pada zaman ini salah satunya adalah faktor pemerintahan bani Umayyah yang lebih suka pada membangun kekuatan pemerintahan/politik yang cenderung otoriter.




B. PEMBAHASAN
1. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah
Pada zaman ini masjid menjadi semacam lembaga sebagai pusat kehidupan dan kegiatan ilmu terutama ilmu-ilmu agama. Seorang ustadz duduk dalam masjid dan murid duduk di sekelilingnya mendengarkan pelajarannya. Kadang dalam satu masjid terdapat beberapa halaqoh dengan ustadz dan pelajaran berbeda-beda. Kadang pula ustadz menggunakan rumahnya untuk mengajar. Pada zaman ini belum ada sekolah atau gedung khusus sebagai tempat belajar.
Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentralisasi,. Kajian ilmu yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kufah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota lainnya, seperti: Basrah dan Kuffah (Irak), Damsyik dan Palestina (Syam), Fistat (Mesir). Diantara ilmu-ilmu yang dikembangkannya, yaitu: kedokteran, filsafat, astronomi atau perbintangan, ilmu pasti, sastra, seni baik itu seni bangunan, seni rupa, maupun seni suara.
Pada masa khalifah-khalifah Rasyidin dan Umayyah sebenarnya telah ada tingkat pengajaran, hampir sama seperti masa sekarang. Tingkat pertama ialah Kuttab, tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Al-Qur’an serta belajar pokok-pokok Agama Islam. Setelah tamat Al-Qur’an mereka meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid itu terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat menengah gurunya belumlah ulama besar, sedangkan pada tingkat tingginya gurunya ulama yang dalam ilmunya dan masyhur ke’aliman dan kesalehannya.
Umumnya pelajaran diberikan guru kepada murid-murid seorang demi seorang. Baik di Kuttab atau di Masjid pada tingkat menengah. Pada tingkat tinggi pelajaran diberikan oleh guru dalam satu halaqah yang dihadiri oleh pelajar bersama-sama.
Ilmu-ilmu yang diajarkan pada Kuttab pada mula-mulanya adalah dalam keadaan sederhana, yaitu:
a. Belajar membaca dan menulis
b. Membaca Al-Qur’an dan menghafalnya
c. Belajar pokok-pokok agama Islam, seperti cara wudhu, shalat, puasa dan sebagainya.
Ilmu-ilmu yang diajarkan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:
a. Al-Qur’an dan tafsirannya.
b. Hadis dan mengumpulkannya.
c. Fiqh (tasri’).
Pemerintah dinasti Umayyah menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu. Di antara ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa ini adalah:
a. Ilmu agama, seperti: Al-Qur’an, Hadist, dan Fiqh. Proses pembukuan Hadist terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz sejak saat itulah hadis mengalami perkembangan pesat.
b. Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Ubaid ibn Syariyah Al Jurhumi berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.
Pada zaman bani Umayyah gerakan sejarah menghasilkan tarikh yang terbagi dalam dua bidang besar :
1) Tarikh Islam, yaitu tarikh kaum muslimin dengan segala perjuangannya, riwayat hidup pemimpin-pemimpin mereka. Sumber tarikh dalam bidang ini adalah dari amal perbuatan mereka sendiri.
2) Tarikh umum, yaitu tarikh bangsa-bangsa lain yang dipelajari dan disalin dengan sungguh-sungguh sejan zaman bani Umayyah. Hal ini karena kholifah mereka termasuk orang-orang yang paling gemar untuk mengetahui orang-orang ternama dari tarikh bangsa lain.
c. Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, shorof, dan lain-lain.
Ilmu Nahwu, yaitu ilmu tentang perubahan bunyi pada kata-kata yang terdapat di dalam Al-Qur'an.Pengarang ilmu nahwu yang pertama dan membukukannya seperti halnya sekarang, yaitu Abu Aswad Ad-Dualy . Beliau belajar dari Ali bin Abi Thalib sehingga ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Bapak Ilmu Nahwu.
d. Bidang filsafat
Filsafat muncul di akhir zaman bani Umayyah untuk melawan pemikiran Yahudi dan Nasrani. Pemikiran teologis dari agama Kristen sudah berkembang lebih dulu sebelum datangnya Islam dan masuk ke lingkungan Islam secara sengaja untuk merusak akidah Islam. Karena itu timbul dalam Islam pemikiran yang bersifat teologis untuk menolak ajaran-ajaran teologis dari agama Kristen yang kemudian disebut Ilmu Kalam. Ilmu kalam dalam perkembangannya menjadi ilmu khusus yang membahas tentang berbagai macam pola pemikiran yang berbeda dari ajaran Islam sendiri, karena dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang memerintahkan untuk membaca, berfikir, menggunakan akal dan sebagainya yang kesemuanya mendorong umat Islam, terutama para ahlinya untuk berfikir mengenai segala sesuatu guna mendapatkan kebenaran dan kebijaksanaan.

e. Ilmu-ilmu yang di salin dari bahasa Asing ke dalam bahasa Arab dan di sempurnakan untuk kepentingan keilmuan umat Islam dikelompokan dalam Al-Ulumud Dakhilah yang terdiri dari :
1) Ilmu Kimia. Khalifah Yazid bin Yazid bin Mua'wiyah adalah yang menyuruh penerjemahannya ke dalam bahsa Arab.Beliau mendatangkan beberapa orang Romawi yang bermukim di Mesir, di antaranya Maryanis seorang pendeta yang mengajarkan ilmu kimia. Penerjemahan ke dalam bahasa Arab dilakukan oleh Isthafun.
2) Ilmu Bintang. Masih dalam masa Kholid bin Walid, beliau sangat menggemari ilmu ini sehingga dikeluarkan sejumlah uang untuk mempelajari dan membeli alat-alatnya. Karena gemarnya setiap akan pergi ke medan perang selalu dibawanya ahli ilmu bintang.
3) Ilmu Kedokteran. Penduduk Syam di jaman ini telah banyak menyalin bermacam ilmu ke dalam bahasa Arab seperti ilmu-ilmu kedokteran, mislanya karanganm Qis Ahrun dalam bahasa Suryani yang disalin ke dalam bahasa Arab oleh Masajuwaihi.

Pola pendidikan pada periode Bani Umayyah telah berkembang jika dilihat dari aspek pengajarannya, walaupun sistemnya masih sama seperti pada masa Nabi dan khulafaur rasyidin. Pada masa ini peradaban Islam sudah bersifat internasional yang meliputi tiga benua, yaitu sebagian Eropa, sebagian Afrika dan sebagian besar Asia yang kesemuanya itu dipersatukan dengan bahasa Arab sebagai bahasa resmi Negara. )



2. Madrasah/Universitas Pada Masa Bani Umayyah
Perluasan negara Islam bukanlah perluasan dengan merobohkan dan menghancurkan, bahkan perluasan dengan teratur diikuti oleh ulama-ulama dan guru-guru agama yang turut bersama-sama tentara Islam. Pusat pendidikan telah tersebar di kota-kota besar sebagai berikut:Di kota Mekkah dan Madinah (HIjaz). Di kota Basrah dan Kufah (Irak). Di kota Damsyik dan Palestina (Syam). Di kota Fistat (Mesir).
Madrasah-madrasah yang ada pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
a. Madrasah Mekkah: Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al Qur’an dan mana yang halal dan haram dalam Islam. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan Abdullah bin Abbas pergi ke Mekkah, lalu mengajar disana di Masjidil Haram. Ia mengajarkan tafsir, fiqh dan sastra. Abdullah bin Abbaslah pembangunan madrasah Mekkah, yang termasyur seluruh negeri Islam.
b. Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
c. Madrasah Basrah: Ulama sahabat yang termasyur di Basrah ialah Abu Musa Al-asy’ari dan Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asy’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadist, serta ahli Al Qur’an. Sedangkan Abas bin Malik termasyhur dalam ilmu hadis. Al-Hasan Basry sebagai ahli fiqh, juga ahli pidato dan kisah, ahli fikir dan ahli tasawuf. Ia bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada pelajar-pelajar, bahkan juga mengajar orang banyak dengan mengadakan kisah-kisah di masjid Basrah.
d. Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswad, Masroq, ‘Ubaidah, Al-Haris bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang menggantikan Abdullah bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah bin Mas’ud. Bahkan mereka pergi ke Madinah.
e. Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaitu Abdurrahman Al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan Abu-Hanafiah. Mazhabnya tersebar di Syam sampai ke Magrib dan Andalusia. Tetapi kemudian mazhabnya itu lenyap, karena besar pengaruh mazhab Syafi’I dan Maliki.
f. Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara Islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di Mesir ialah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As, yaitu di Fisfat (Mesir lama). Ia ahli hadis dengan arti kata yang sebenarnya. Karena ia bukan saja menghafal hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi S.A.W., melainkan juga dituliskannya dalam buku catatan, sehingga ia tidak lupa atau khilaf meriwayatkan hadis-hadis itu kepada murid-muridnya. Oleh karena itu banyak sahabat dan tabi’in meriwayatkan hadis-hadis dari padanya.

Pelajar-pelajar tidak mencukupkan belajar pada seorang ulama di negeri tempat tinggalnya, melainkan mereka melawat ke kota yang lain ( Rihlah Ilmiyah) untuk melanjutkan ilmunya. Pelajar Mesir melawat ke Madinah, pelajar Madinah melawat ke Kufah, pelajar Kufah melawat Syam, pelajar Syam melawat kian kemari dan begitulah seterusnya. Dengan demikian dunia ilmu pengetahuan tersebar seluruh kota-kota di Negara Islam. )


3. Tokoh-Tokoh Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah
Tokoh-tokoh pendidikan pada masa Bani Umayyah terdiri dari ulama-ulama yang menguasai bidangnya masing-masing seperti dalam bidang tafsir, hadist, dan Fiqh. Selain para ulama juga ada ahli bahasa/sastra.
a. Ulama-ulama tabi’in ahli tafsir, yaitu: Mujahid, ‘Athak bin Abu Rabah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Masruq bin Al-Ajda’, Qatadah.
Pada masa tabi’in tafsir Al-Qur’an bertambah luas dengan memasukkan Israiliyat dan Nasraniyat,karena banyak orang-orang yahudi dan Nasraniyat, karena banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani memeluk agama Islam. Di antara mereka yang termasyhur: Ka’bul Ahbar, Wahab bin Munabbih, Abdullah bin Salam, Ibnu Juraij
b. Ulama-ulama Hadist: Kitab bacaan satu-satunya ialah al-Qur’an. Sedangkan hadis-hadis belumlah dibukukan. Hadis-hadis hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut. Dari mulut guru ke mulut muridnya, yaitu dari hafalan guru diberikannya kepada murid, sehingga menjdi hafalan murid pula dan begitulah seterusnya. Sebagian sahabat dan pelajar-pelajar ada yang mencatat hadist-hadist itu dalam buku catatannya, tetapi belumlah berupa buku menurut istillah kita sekarang.
Ulama-ulama sahabat yang banyak meriwayatkan hadis-hadis ialah: Abu Hurairah (5374 hadist), ‘Aisyah (2210 hadist), Abdullah bin Umar (± 2210 hadist), Abdullah bin Abbas (± 1500 hadist), Jabir bin Abdullah (±1500 hadist), Anas bin Malik (±2210 hadist)
c. Ulama-ulama ahli Fiqh: Ulama-ulama tabi’in Fiqih pada masa bani Umayyah diantaranya adalah:, Syuriah bin Al-Harits, ‘alqamah bin Qais, Masuruq Al-Ajda’,Al-Aswad bin Yazid.
Kemudian diikuti oleh murid-murid mereka, yaitu: Ibrahim An-Nakh’l (wafat tahun 95 H) dan ‘Amir bin Syurahbil As Sya’by (wafat tahun 104 H). sesudah itu digantikan oleh Hammad bin Abu Sulaiman (wafat tahubn 120 H), guru dari Abu Hanafiah.
d. Ahli bahasa/sastra: Seorang ahli bahasa seperti Sibawaih yang karya tulisnya Al-Kitab, menjadi pegangan dalam soal berbahasa arab. Sejalan dengan itu, perhatian pada syair Arab jahiliahpun muncul kembali sehingga bidang sastra arab mengalami kemajuan. Di zaman ini muncul penyair-penyair seperti Umar bin Abu Rabiah (w.719), Jamil al-uzri (w.701), Qys bin Mulawwah (w.699) yang dikenal dengan nama Laila Majnun, Al-Farazdaq (w.732), Jarir (w.792), dan Al akhtal (w.710).
Sebegitu jauh kelihatannya kemajuan yang dicapai Bani Umayyah terpusat pada bidang ekspansi wilayah, bahasa dan sastra arab, serta pembangunan fisik. Sesungguhnya dimasa ini gerakan-gerakan ilmiah telah berkembang pula, seperti dalam bidang keagamaan, sejarah dan filsafat. Dalam bidang yang pertama umpamanya dijumpai ulama-ulama seperti Hasan al-Basri, Ibnu Syihab Az-Zuhri, dan Wasil bin Ata. Pusat kegiatan ilmiah ini adalah Kufah dan Basrah di Irak. Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah (w. 79\04/709) adalah seorang orator dan penyair yang berpikir tajam. Ia adalah orang pertama yang menerjemahkan buku-buku tentang astronomi, kedokteran, dan kimia. )

C. ANALISIS
Nilai-nilai yang masih actual dan up to date untuk diaplikasikan pada system pendidikan saat ini adalah :
a. Adanya TPA yang didirikan atau diadakan dirumah ustadz/h TPA yang mengajar
b. Adanya pertukaran pelajar sehingga tidak hanya belajar pada satu lembaga.
c. Adanya madrasah-madrasah pendidikan di pusat-pusat kota sebagai sarana pendidikan.
d. Penyediaan sarana prasarana pendidikan dari pemerintah sebagai fasilitas yang mendukung kemajuan pendidikan serta agar para guru melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta melakukan kaderisasi ilmu.
e. Penerjemahan buku-buku atau ilmu-ilmu dari bahasa asing ke bahasa nasional dan disempurnakan untuk kepentingan keilmuan islam.
D. KESIMPULAN
Dari pembahasan dan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa :
a. Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentralisasi,. Kajian ilmu yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kufah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota lainnya, seperti: Basrah dan Kuffah (Irak), Damsyik dan Palestina (Syam), Fistat (Mesir).
b. Pada masa Umayyah telah ada tingkat pengajaran, hampir sama seperti masa sekarang. Tingkat pertama ialah Kuttab, tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Al-Qur’an serta belajar pokok-pokok Agama Islam. Setelah tamat Al-Qur’an mereka meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid itu terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat menengah gurunya belumlah ulama besar, sedangkan pada tingkat tingginya gurunya ulama yang dalam ilmunya dan masyhur ke’aliman dan kesalehannya.
c. Pemerintah dinasti Umayyah menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.
d. Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam pada masa ini berjalan seperti di zaman permulaan Islam, hanya ada sedikit peningkatan sesuai dengan perkembangan Daulah Islamiyah sendiri. Faktor yang menyebabkan kurang pesatnya perkembangan ilmu-ilmu pada zaman ini salah satunya adalah faktor pemerintahan bani Umayyah yang lebih suka pada membangun kekuatan pemerintahan/politik yang cenderung otoriter.



REFERENSI

http://fadhilmunawwarmanshur.blogspot.com

http://jackbana.blogspot.com/2009/10/pendidikan-islam-pada-masa-bani-umayyah.html

http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1752

STUDI ANALISIS MODEL MBS DI HONGKONG, KANADA, DAN AMERIKA SERIKAT

STUDI ANALISIS MODEL MBS DI HONGKONG, KANADA, DAN AMERIKA SERIKAT

I. PENDAHULUAN
Istilah mbs merupakan terjemahan dari ” school-besed management”.istilah ini pertama sekali muncul di amerika serikat. Mbs merupakan paradikma baru pendidikan,yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kibijakan pendidikan nasional.
Dalam diskusi ini akan dibahas model-model MBS di Hongkong, Kanada, dan Amerika Serikat, tentang :
a. Sejarah munculnya MBS
b. Perencanaan (planning)
c. Organisasi (organizing),
d. Arahan (directing),
e. Koordinasi (coordinating),
f. Pengawasan/ kontrol (controlling)
g. Sistem evaluasi (evaluation).

II. PEMBAHASAN
A. Model MBS di Hong Kong
1. Sejarah munculnya:
a. Struktur dan proses manajemen yang tidak memadai
b. Peran dan tanggung jawab masing-masing pihak kurang dijabarkan job description
c. Alat ukur prestasi kurang pas
d. Kurangnya kerangka kerja, tanggungjawab dan akuntabilitas
e. Lebih mementingkan control pembiayaan daripada keefektifitasaannya.

2. Perencanaan:
a. Telaah ulang terhadap pembelajaran
b. Evaluasi secara sistematis
c. Description job yang jelas
d. Pembagian tugas antara pembuatan kebijakan dan pelaksana
e. Pendirian organisasI

3. Organisasi
Pembagian tugas antara pembuatan kebijakan dan pelaksana

4. Arahan
a. Telaah ulang terhadap pembelajaran
b. Description job yang jelas


5. Koordinasi
Sumberdaya dan manajemen tidak bisa dipisahkan

6. Control
a. Pembagian tugas antara pembuatan kebijakan dan pelaksana
b. Transparasi dan akuntabilitas

7. Evaluasi
Evaluasi secara sistematis

B. Model MBS di Amerika Serikat
1. Sejarah munculnya:
Penerapan MBS terjadi pada tahun 1980-an, yang merupakan kebangkitan kembali akan adanya kesadaran dan pentingnya pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah. Sebelumnya tahun 1970-an sekolah-sekolah di distrik menerapkan Side-Based Managemen.
Ada 2 gelombang reformasi:
a. Gelombang pertama ditandai adanya sentralisasi, fungsi-fungsi pendidikan pada tingkat pusat mencakup kurikulum dan ujian nasional.
b. Gelombang kedua adanya laporan dari The National Commision on Excellence in Education (1983) yang selanjutnya dilakukan pengurangan keterlibatan pemerintah pusat dan pemerintah federal.

2. Perencanaan:
a. Penyerahan pengelolaan sumber daya ke tingkat sekolah
b. Sekolah memiliki kebebasan mencurahkan energi kreatifnya
c. Sekolah dapat mengembangkan diversifikasi pendekatan dan strategi untuk mencapai tujuan
d. Otoritas pengambilan keputusan berada pada tingkat sekolah.

3. Organisasi
a. Pemerintah pusat
b. Pemerintah daerah (district)sebagai unit pembuat kebijakan dan administrasi
c. Pemerintah federal, dukungan pendanaan





4. Arahan
a. Asosiasi Gubernur Nasional ( National Governors Association) mengemukakan bahwa penyerahanpengelolaan sumber daya ke tingkat sekolah akan membuat kemajuan karena sekolah memiliki kebebasan mencurahkan energy kreatifnya dan sekolah dapat mengembangkan diversifikasi pendekatan dan strategi untuk mencapai tujuan.
b. Persatuan guru terbesar di Amerika Serikat (The National Education Association ) dan persatuan Kepala Sekolah Menengah Pertama ( The National Association of Secondary School Principal) menyarankan bahwa sebagai syarat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka otoritas pengambilan keputusan harus berada pada tingkat sekolah.

5. Koordinasi
Sistem pendidikan di Amerika Serikat:
a. Pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan
b. Pemerintah daerah (district)sebagai unit pembuat kebijakan dan administrasi
c. Pemerintah federal,dukungan pendanaan

6. Control
a. Pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan
b. Pemerintah daerah (district)sebagai unit pembuat kebijakan dan administrasi
c. Pemerintah federal,dukungan pendanaan

7. Evaluasi
a. Sentralisasi fungsi-fungsi pendidikan pada tingkat pusat mencakup kurikulum dan ujian nasional
b. pengurangan keterlibatan pemerintah pusatdan pemerintah federal

C. Model MBS di Kanada
1. Sejarah :
Model MBS di Kanada disebut School-Site Decision Making (SSDM) atau pengambilan keputusan diserahkan pada tingkat sekolah. MBS di Kanada dimulai pada tahun 1970 dengan tujuh sekolah percobaan. Desentralisasi yang diberikan kepada sekolah adalah alokasi sumber daya bagi staf pengajar dan administrasi, peralatan dan pelayanan. Dan pada tahun 1980-1981 diadopsi secara besar-besaran ke berbagai sekolah dengan pendekatan manajemen mandiri.




2. Perencanaan
Ada 3 bidang yang ditentukan oleh pusat sebelum diterapkannya MBS :
a. Pengadaan pegawai sekolah semuanya diangkat dari pusat
b. Pengadaan peralatan seperti buku, alat tulis, dan bahan praktik laboratorium semuanya didrop dari pusat
c. Pelayanan pendidikan kepada pelanggan semuanya telah distandarkan dari pusat mulai ditinggalkan.


3. Pengorganisasian
a. Adanya dewan sekolah yang menentukan tujuan sekolah secara luas dalam hal system dan prioritas untuk semua sekolah
b. Staf sekolah dikontrak secara sentralistis tetapi dipilih oleh para kepala sekolah

4. Arahan
a. Adanya program efektivitas guru dan adanyaprogram pengembangan profesionalisme tenaga kerja
b. Penentuan alokasi sumber daya
c. Anggaran pendidikan dimasukkan ke dalam anggaran sekolah

5. Koordinasi
Pengambilan keputusan diserahkan kepada masing-masing sekolah secara langsung

6. Kontroling
Pengambilan keputusan diserahkan kepada masing-masing sekolah secara langsung dan hanya terbatas pada peningkatan promosi penghargaan dan penghentian tenaga guru dan administrasi, pengadaan peralatan sekolah, pelayanan pada pelanggan sekolah.

7. Evaluasi
MBS di Kanada diadakan standarisasi test di seluruh distrik untuk pelajaran bahasa, ilmu-ilmu sosial, matematika dan ilmu alam yang diterapkan pada kelas 3, 6 dan 9. Dilakukan survey tahunan terhadap sistem pendidikan secara menyeluruh di masing-masing sekolah terhadap kepala sekolah, guru, orang tua siswa dan siswa dengan maksud mendapatkan opini tentang kualitas pendidikan dan pelayanan pendidikan.

KESEHATAN MENTAL DALAM TINJAUAN HADITS

KESEHATAN MENTAL DALAM TINJAUAN HADITS

Menurut para psikolog, kesehatan mental adalah kematangan seseorang pada tingkat emosional dan sosial untuk melakukan upaya adaptasi dengan dirinya dan alam sekitar, serta kemampuan untuk mengemban tanggungjawab kehidupan dan menghadapi segala problematikanya. Dan inti pembahasan kesehatan mental adalah kemampuan beradaptasi secara personal maupun social sehingga seseorang akan hidup dengan perasaan senang dan bahagia.
Indicator kesehatan mental salah satunya dikemukakan oleh Maslow : indicator seseorang telah meraih kesehatan mental adalah adanya hubungan antara dirinya dengan beberapa nulai, seperti kejujuran seseorang kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, memiliki keberanian utnuk mengungkapkan kebenaran, bertanggungjawab dalam melakukan sesuatu yang dikerjakannya, berani mengakui siapa diri sebenarnya, apa yang ia kehendaki dan apa yang ia sukai, serta mau mengakui hal-hal baik sekalipun tidak berasal dari dirinya, sekaligus mau menerima hal baik tersebut tanpa bermaksud untuk mengadakan pembelaan diri demi merusak hakikat kebenaran yang telah ada.
Indicator lainnya dikemukakan oleh Utsman Labib Faraj:
a. Merasa aman tenteram
b. Bisa menerima diri sendiri, merasa diri bernilai, menyadari akan kemampuan diri, mengakui keterbatasan diri, mau menerima orang lain, mau menerima perbedaan diantara mereka, dan mengakui adanya perbedaan antara dirinya dengan orang lain.
c. Mempu menguasai diri secara proporsional ketika dituntut melakukan hal yang spontan dan memiliki kemampuan untuk memulai sesuatu.
d. Mampu menumbuhkan interaksi aktif dan memuaskan pihak lain
e. Memiliki pandangan yang realistis dalam menjalani kehidupan dan bisa menghadapi berbagai problem dengan wajar sehingga mampu memunculkan solusi terbaik.
f. Memiliki kepribadian yang sempurna. Di antara tanda-tanda seseorang memiliki kepribadian yang sempurna adalah :
• Memiliki kematangan emosional
• Mampu bertahan dan tegar
• Jiwanya merasa bahagia dan tenang
• Produktif
• Mengekspresikan kebebasan berkarya secara seimbang
Dr. Muhammad ‘Audah Muhammad dan Dr.Kamal Ibrahim Mursa menganggap bahwa spirit yang memiliki iman kepada Allah dan aktifitas ibadah kepada-Nya merupakan indicator penting untuk menunjukkan bahwa seseorang telah berhasil meraih kesehatan mental. Indicator-indikatornya dibagi dalam beberapa dimensi yaitu Dimensi spiritual, Dimensi psikologis, Dimensi social, Dimensi biologis.
Konsep Kesehatan Mental dalam Al Qur’an Hadits
Islam tidak mengajarkan cara hidup monastic ( kerahiban) yang menghalangi seseorang untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya. Namun islam mengajarkan seseorang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan ruhaninya, serta mengajarkan untuk memilih jalan tengah dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritualnya.
Dalam Al Qur’an, manusia yang berkepribadian seimbang adalah orang-orang yang memiliki an-nafsul muthma’innah, yakni orang yang fisiknya sehat dan kuat, mampu memenuhi kebutuhan primernya dengan cara yang halal, dan memenuhi kebutuhan spiritualnya dengan cara berpegang teguh pada akidah tauhid, mendekathan diri kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan ibadah dan beramal shalih, serta menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan hal-hal yang mendatangkan murka Allah Ta’ala. Manusia yang berkepribadian seimbang adalah orang yang berperilaku stabil. Semua ucapan dan perbuatannya senantiasa sesuai dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an dan aturan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW di dalam sunnahnya yang mulia.
Tiga metode islam dalam merealisasikan kesehatan mental :
a. Berkonsentrasi untuk menguatkan dimensi spiritual dalam diri manusia dengan cara beriman kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, dan menjalankan berbagai ritual ibadah.
b. Berkonsentrasi untuk mengendalikan dimensi material dalam diri manusia. Caranya dengan mengendalikan berbagai motivasi dan emosi, serta mengalahkan dorongan nafsu dan syahwat.
c. Berkonsentrasi pada pengajaran yang meliputi semua aspek dan tradisi untuk kematangan emosi dan social. Pada akhirnya, akan tumbuh kepribadian utama yang mampu bertanggungjawab dalam menjalani kehidupan, bisa melaksanakan perannya di masyarakat, bisa tampil sebagai makhluk yang ikut memakmurkan dunia, sehingga bisa hidup normal dan memiliki kesehatan mental yang mantap.

Berikut ini beberapa metode pendidikan yang ditempuh Islam untuk merealisasikan kesehatan mental pada diri seseorang:
1. Metode penguatan dimensi spiritual :
a. Beriman, bertauhid, dan beribadah kepada Allah.
(QS 6:82)
          
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS 13:28)
            
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.









(QS 16:97)
         •    •      
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.

b. Takwa
Yang dimaksud dengan takwa adalah menjaga diri dari murka dan adzab Allah Ta’ala dengan cara menjauhi perbuatan maksiat dan senantiasa mematuhi aturan Allah.

c. Praktik ibadah
Menunaikan berbagai macam ibadah, seperti shalat, puasa, zakat dan haji, merupakan upaya mendidik pribadi manusia, membersihkan jiwa, dan mengajarkan banyak sifat terpuji yang mampu membuatnya bertahan dalam menghadapi kenyataan hidup.


2. Metode menguasai dimensi biologis
a. Mengendalikan berbagai motivasi
• Memenuhi dengan cara yang halal dan diijinkan syari’at. Misalnya:
(QS 24:33) Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya...
• Tidak berlebihan dalam memenuhi motivasi

b. Mengendalikan emosi
Mempelajari hal-hal yang penting untuk kesehatan mental
Perilaku mulia yang dianggap sebagai indicator kesehatan mental :
1) Perasaan aman
2) Mandiri
3) Percaya diri
4) Bertanggungjawab
5) Berani mengutarakan pendapat
6) Qanaah, dan ridha menerima Qadha dan Qadar
7) Sabar
8) Menuntaskan pekerjaan dengan efektif
9) Menjaga kesehatan tubuh

Beberapa indikator kesehatan mental dalam tinjauan Al Qur’an dan Hadits adalah :
1. Hubungannya dengan Tuhan
Iman kepada Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, para malaikat-Nya, hari kiamat, hisab, serta qadha’ dan qadar. Mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai macam ibadah,dan ketaatan, ikhlas dalam bertakwa, mengikuti segenap perintah Allah dan wasiat Rasulullah SAW. Menjauhi berbagai keburukan dan kemaksiatan, serta menghindari semua larangan Allah dan Rasulullah SAW.
2. Hubungannya dengan diri sendiri
Mengenali diri sendiri, mengetahui berbagai kebutuhan, motivasi dan keinginannya, mampu menguasai perasaan dan emosi yang berada dalam dirinya, memiliki tanggung jawab dan mandiri dalam menghadapi kenyataan hidup, berperilaku lurus, mengutarakan ide-idenya dengan benar dan jujur, berakhlak mulia, mengerjakan tugasnya dengan amanah, ikhlas, professional dan tuntas.

3. Hubungannya dengan orang lain
Menjalin hubungan baik dengan orang lain, menjalin interaksi social dengan baik. Hubungannya baik dengan keluarganya, mencintai orang tua, menghormati dan mengasihinya. Sayang terhadap anak-anaknya. Dan menjalin hubungan baik dengan tetangganya.

4. Hubungannya dengan alam
Mengetahui dengan benar posisinya di alam. Mengenali misi utamanya dalam kehidupan yaitu sebagai khalifah Allah Ta’ala di muka bumi. Memberikan cinta kepada semua makhluk Allah baik kepada sesama manusia, kepada hewan, maupun tumbuhan.

KESEHATAN MENTAL DALAM TINJAUAN HADITS

KESEHATAN MENTAL DALAM TINJAUAN HADITS

Menurut para psikolog, kesehatan mental adalah kematangan seseorang pada tingkat emosional dan sosial untuk melakukan upaya adaptasi dengan dirinya dan alam sekitar, serta kemampuan untuk mengemban tanggungjawab kehidupan dan menghadapi segala problematikanya. Dan inti pembahasan kesehatan mental adalah kemampuan beradaptasi secara personal maupun social sehingga seseorang akan hidup dengan perasaan senang dan bahagia.
Indicator kesehatan mental salah satunya dikemukakan oleh Maslow : indicator seseorang telah meraih kesehatan mental adalah adanya hubungan antara dirinya dengan beberapa nulai, seperti kejujuran seseorang kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, memiliki keberanian utnuk mengungkapkan kebenaran, bertanggungjawab dalam melakukan sesuatu yang dikerjakannya, berani mengakui siapa diri sebenarnya, apa yang ia kehendaki dan apa yang ia sukai, serta mau mengakui hal-hal baik sekalipun tidak berasal dari dirinya, sekaligus mau menerima hal baik tersebut tanpa bermaksud untuk mengadakan pembelaan diri demi merusak hakikat kebenaran yang telah ada.
Indicator lainnya dikemukakan oleh Utsman Labib Faraj:
a. Merasa aman tenteram
b. Bisa menerima diri sendiri, merasa diri bernilai, menyadari akan kemampuan diri, mengakui keterbatasan diri, mau menerima orang lain, mau menerima perbedaan diantara mereka, dan mengakui adanya perbedaan antara dirinya dengan orang lain.
c. Mempu menguasai diri secara proporsional ketika dituntut melakukan hal yang spontan dan memiliki kemampuan untuk memulai sesuatu.
d. Mampu menumbuhkan interaksi aktif dan memuaskan pihak lain
e. Memiliki pandangan yang realistis dalam menjalani kehidupan dan bisa menghadapi berbagai problem dengan wajar sehingga mampu memunculkan solusi terbaik.
f. Memiliki kepribadian yang sempurna. Di antara tanda-tanda seseorang memiliki kepribadian yang sempurna adalah :
• Memiliki kematangan emosional
• Mampu bertahan dan tegar
• Jiwanya merasa bahagia dan tenang
• Produktif
• Mengekspresikan kebebasan berkarya secara seimbang
Dr. Muhammad ‘Audah Muhammad dan Dr.Kamal Ibrahim Mursa menganggap bahwa spirit yang memiliki iman kepada Allah dan aktifitas ibadah kepada-Nya merupakan indicator penting untuk menunjukkan bahwa seseorang telah berhasil meraih kesehatan mental. Indicator-indikatornya dibagi dalam beberapa dimensi yaitu Dimensi spiritual, Dimensi psikologis, Dimensi social, Dimensi biologis.
Konsep Kesehatan Mental dalam Al Qur’an Hadits
Islam tidak mengajarkan cara hidup monastic ( kerahiban) yang menghalangi seseorang untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya. Namun islam mengajarkan seseorang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan ruhaninya, serta mengajarkan untuk memilih jalan tengah dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritualnya.
Dalam Al Qur’an, manusia yang berkepribadian seimbang adalah orang-orang yang memiliki an-nafsul muthma’innah, yakni orang yang fisiknya sehat dan kuat, mampu memenuhi kebutuhan primernya dengan cara yang halal, dan memenuhi kebutuhan spiritualnya dengan cara berpegang teguh pada akidah tauhid, mendekathan diri kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan ibadah dan beramal shalih, serta menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan hal-hal yang mendatangkan murka Allah Ta’ala. Manusia yang berkepribadian seimbang adalah orang yang berperilaku stabil. Semua ucapan dan perbuatannya senantiasa sesuai dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an dan aturan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW di dalam sunnahnya yang mulia.
Tiga metode islam dalam merealisasikan kesehatan mental :
a. Berkonsentrasi untuk menguatkan dimensi spiritual dalam diri manusia dengan cara beriman kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, dan menjalankan berbagai ritual ibadah.
b. Berkonsentrasi untuk mengendalikan dimensi material dalam diri manusia. Caranya dengan mengendalikan berbagai motivasi dan emosi, serta mengalahkan dorongan nafsu dan syahwat.
c. Berkonsentrasi pada pengajaran yang meliputi semua aspek dan tradisi untuk kematangan emosi dan social. Pada akhirnya, akan tumbuh kepribadian utama yang mampu bertanggungjawab dalam menjalani kehidupan, bisa melaksanakan perannya di masyarakat, bisa tampil sebagai makhluk yang ikut memakmurkan dunia, sehingga bisa hidup normal dan memiliki kesehatan mental yang mantap.

Berikut ini beberapa metode pendidikan yang ditempuh Islam untuk merealisasikan kesehatan mental pada diri seseorang:
1. Metode penguatan dimensi spiritual :
a. Beriman, bertauhid, dan beribadah kepada Allah.
(QS 6:82)
          
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS 13:28)
            
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.









(QS 16:97)
         •    •      
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.

b. Takwa
Yang dimaksud dengan takwa adalah menjaga diri dari murka dan adzab Allah Ta’ala dengan cara menjauhi perbuatan maksiat dan senantiasa mematuhi aturan Allah.

c. Praktik ibadah
Menunaikan berbagai macam ibadah, seperti shalat, puasa, zakat dan haji, merupakan upaya mendidik pribadi manusia, membersihkan jiwa, dan mengajarkan banyak sifat terpuji yang mampu membuatnya bertahan dalam menghadapi kenyataan hidup.


2. Metode menguasai dimensi biologis
a. Mengendalikan berbagai motivasi
• Memenuhi dengan cara yang halal dan diijinkan syari’at. Misalnya:
(QS 24:33) Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya...
• Tidak berlebihan dalam memenuhi motivasi

b. Mengendalikan emosi
Mempelajari hal-hal yang penting untuk kesehatan mental
Perilaku mulia yang dianggap sebagai indicator kesehatan mental :
1) Perasaan aman
2) Mandiri
3) Percaya diri
4) Bertanggungjawab
5) Berani mengutarakan pendapat
6) Qanaah, dan ridha menerima Qadha dan Qadar
7) Sabar
8) Menuntaskan pekerjaan dengan efektif
9) Menjaga kesehatan tubuh

Beberapa indikator kesehatan mental dalam tinjauan Al Qur’an dan Hadits adalah :
1. Hubungannya dengan Tuhan
Iman kepada Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, para malaikat-Nya, hari kiamat, hisab, serta qadha’ dan qadar. Mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai macam ibadah,dan ketaatan, ikhlas dalam bertakwa, mengikuti segenap perintah Allah dan wasiat Rasulullah SAW. Menjauhi berbagai keburukan dan kemaksiatan, serta menghindari semua larangan Allah dan Rasulullah SAW.
2. Hubungannya dengan diri sendiri
Mengenali diri sendiri, mengetahui berbagai kebutuhan, motivasi dan keinginannya, mampu menguasai perasaan dan emosi yang berada dalam dirinya, memiliki tanggung jawab dan mandiri dalam menghadapi kenyataan hidup, berperilaku lurus, mengutarakan ide-idenya dengan benar dan jujur, berakhlak mulia, mengerjakan tugasnya dengan amanah, ikhlas, professional dan tuntas.

3. Hubungannya dengan orang lain
Menjalin hubungan baik dengan orang lain, menjalin interaksi social dengan baik. Hubungannya baik dengan keluarganya, mencintai orang tua, menghormati dan mengasihinya. Sayang terhadap anak-anaknya. Dan menjalin hubungan baik dengan tetangganya.

4. Hubungannya dengan alam
Mengetahui dengan benar posisinya di alam. Mengenali misi utamanya dalam kehidupan yaitu sebagai khalifah Allah Ta’ala di muka bumi. Memberikan cinta kepada semua makhluk Allah baik kepada sesama manusia, kepada hewan, maupun tumbuhan.

KESEHATAN MENTAL DALAM TINJAUAN HADITS

KESEHATAN MENTAL DALAM TINJAUAN HADITS

Menurut para psikolog, kesehatan mental adalah kematangan seseorang pada tingkat emosional dan sosial untuk melakukan upaya adaptasi dengan dirinya dan alam sekitar, serta kemampuan untuk mengemban tanggungjawab kehidupan dan menghadapi segala problematikanya. Dan inti pembahasan kesehatan mental adalah kemampuan beradaptasi secara personal maupun social sehingga seseorang akan hidup dengan perasaan senang dan bahagia.
Indicator kesehatan mental salah satunya dikemukakan oleh Maslow : indicator seseorang telah meraih kesehatan mental adalah adanya hubungan antara dirinya dengan beberapa nulai, seperti kejujuran seseorang kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, memiliki keberanian utnuk mengungkapkan kebenaran, bertanggungjawab dalam melakukan sesuatu yang dikerjakannya, berani mengakui siapa diri sebenarnya, apa yang ia kehendaki dan apa yang ia sukai, serta mau mengakui hal-hal baik sekalipun tidak berasal dari dirinya, sekaligus mau menerima hal baik tersebut tanpa bermaksud untuk mengadakan pembelaan diri demi merusak hakikat kebenaran yang telah ada.
Indicator lainnya dikemukakan oleh Utsman Labib Faraj:
a. Merasa aman tenteram
b. Bisa menerima diri sendiri, merasa diri bernilai, menyadari akan kemampuan diri, mengakui keterbatasan diri, mau menerima orang lain, mau menerima perbedaan diantara mereka, dan mengakui adanya perbedaan antara dirinya dengan orang lain.
c. Mempu menguasai diri secara proporsional ketika dituntut melakukan hal yang spontan dan memiliki kemampuan untuk memulai sesuatu.
d. Mampu menumbuhkan interaksi aktif dan memuaskan pihak lain
e. Memiliki pandangan yang realistis dalam menjalani kehidupan dan bisa menghadapi berbagai problem dengan wajar sehingga mampu memunculkan solusi terbaik.
f. Memiliki kepribadian yang sempurna. Di antara tanda-tanda seseorang memiliki kepribadian yang sempurna adalah :
• Memiliki kematangan emosional
• Mampu bertahan dan tegar
• Jiwanya merasa bahagia dan tenang
• Produktif
• Mengekspresikan kebebasan berkarya secara seimbang
Dr. Muhammad ‘Audah Muhammad dan Dr.Kamal Ibrahim Mursa menganggap bahwa spirit yang memiliki iman kepada Allah dan aktifitas ibadah kepada-Nya merupakan indicator penting untuk menunjukkan bahwa seseorang telah berhasil meraih kesehatan mental. Indicator-indikatornya dibagi dalam beberapa dimensi yaitu Dimensi spiritual, Dimensi psikologis, Dimensi social, Dimensi biologis.
Konsep Kesehatan Mental dalam Al Qur’an Hadits
Islam tidak mengajarkan cara hidup monastic ( kerahiban) yang menghalangi seseorang untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya. Namun islam mengajarkan seseorang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan ruhaninya, serta mengajarkan untuk memilih jalan tengah dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritualnya.
Dalam Al Qur’an, manusia yang berkepribadian seimbang adalah orang-orang yang memiliki an-nafsul muthma’innah, yakni orang yang fisiknya sehat dan kuat, mampu memenuhi kebutuhan primernya dengan cara yang halal, dan memenuhi kebutuhan spiritualnya dengan cara berpegang teguh pada akidah tauhid, mendekathan diri kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan ibadah dan beramal shalih, serta menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan hal-hal yang mendatangkan murka Allah Ta’ala. Manusia yang berkepribadian seimbang adalah orang yang berperilaku stabil. Semua ucapan dan perbuatannya senantiasa sesuai dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an dan aturan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW di dalam sunnahnya yang mulia.
Tiga metode islam dalam merealisasikan kesehatan mental :
a. Berkonsentrasi untuk menguatkan dimensi spiritual dalam diri manusia dengan cara beriman kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, dan menjalankan berbagai ritual ibadah.
b. Berkonsentrasi untuk mengendalikan dimensi material dalam diri manusia. Caranya dengan mengendalikan berbagai motivasi dan emosi, serta mengalahkan dorongan nafsu dan syahwat.
c. Berkonsentrasi pada pengajaran yang meliputi semua aspek dan tradisi untuk kematangan emosi dan social. Pada akhirnya, akan tumbuh kepribadian utama yang mampu bertanggungjawab dalam menjalani kehidupan, bisa melaksanakan perannya di masyarakat, bisa tampil sebagai makhluk yang ikut memakmurkan dunia, sehingga bisa hidup normal dan memiliki kesehatan mental yang mantap.

Berikut ini beberapa metode pendidikan yang ditempuh Islam untuk merealisasikan kesehatan mental pada diri seseorang:
1. Metode penguatan dimensi spiritual :
a. Beriman, bertauhid, dan beribadah kepada Allah.
(QS 6:82)
          
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS 13:28)
            
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.









(QS 16:97)
         •    •      
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.

b. Takwa
Yang dimaksud dengan takwa adalah menjaga diri dari murka dan adzab Allah Ta’ala dengan cara menjauhi perbuatan maksiat dan senantiasa mematuhi aturan Allah.

c. Praktik ibadah
Menunaikan berbagai macam ibadah, seperti shalat, puasa, zakat dan haji, merupakan upaya mendidik pribadi manusia, membersihkan jiwa, dan mengajarkan banyak sifat terpuji yang mampu membuatnya bertahan dalam menghadapi kenyataan hidup.


2. Metode menguasai dimensi biologis
a. Mengendalikan berbagai motivasi
• Memenuhi dengan cara yang halal dan diijinkan syari’at. Misalnya:
(QS 24:33) Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya...
• Tidak berlebihan dalam memenuhi motivasi

b. Mengendalikan emosi
Mempelajari hal-hal yang penting untuk kesehatan mental
Perilaku mulia yang dianggap sebagai indicator kesehatan mental :
1) Perasaan aman
2) Mandiri
3) Percaya diri
4) Bertanggungjawab
5) Berani mengutarakan pendapat
6) Qanaah, dan ridha menerima Qadha dan Qadar
7) Sabar
8) Menuntaskan pekerjaan dengan efektif
9) Menjaga kesehatan tubuh

Beberapa indikator kesehatan mental dalam tinjauan Al Qur’an dan Hadits adalah :
1. Hubungannya dengan Tuhan
Iman kepada Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, para malaikat-Nya, hari kiamat, hisab, serta qadha’ dan qadar. Mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai macam ibadah,dan ketaatan, ikhlas dalam bertakwa, mengikuti segenap perintah Allah dan wasiat Rasulullah SAW. Menjauhi berbagai keburukan dan kemaksiatan, serta menghindari semua larangan Allah dan Rasulullah SAW.
2. Hubungannya dengan diri sendiri
Mengenali diri sendiri, mengetahui berbagai kebutuhan, motivasi dan keinginannya, mampu menguasai perasaan dan emosi yang berada dalam dirinya, memiliki tanggung jawab dan mandiri dalam menghadapi kenyataan hidup, berperilaku lurus, mengutarakan ide-idenya dengan benar dan jujur, berakhlak mulia, mengerjakan tugasnya dengan amanah, ikhlas, professional dan tuntas.

3. Hubungannya dengan orang lain
Menjalin hubungan baik dengan orang lain, menjalin interaksi social dengan baik. Hubungannya baik dengan keluarganya, mencintai orang tua, menghormati dan mengasihinya. Sayang terhadap anak-anaknya. Dan menjalin hubungan baik dengan tetangganya.

4. Hubungannya dengan alam
Mengetahui dengan benar posisinya di alam. Mengenali misi utamanya dalam kehidupan yaitu sebagai khalifah Allah Ta’ala di muka bumi. Memberikan cinta kepada semua makhluk Allah baik kepada sesama manusia, kepada hewan, maupun tumbuhan.

KEPRIBADIAN DALAM TINJAUAN HADITS

KEPRIBADIAN DALAM TINJAUAN HADITS

Agar kita bisa memahami kepribadian manusia secara benar, kita mesti mengetahui semua komponen pembentuk kepribadian. Bahkan kita juga harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian secara baik.
Penganut psikoanalisa meletakkan teori tentang kepribadian berdasarkan kajian dan pembahasan yang beragam berasal dari berbagai sudut pandang yang berbeda yang tunduk pada metode penelitian ilmiah. Dimana kajian tersebut membahas tentang seputar fenomena perilaku manusia yang bisa diteliti melalui penelitian ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan yang benar dalam mendalami tentang kepribadian kita harus memiliki metode lain yang memberi kita peluang untuk menelitinya dari dimensi spiritual. Untuk memudahkan hal tersebut kita harus menggunakan metode yang digunakan agama-agama langit , yang diberitakan para nabi dan rasul tentang hakikat manusia dan hakikat penciptanya.
Allah berfirman : Apakah allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan dia maha halus lagi maha mengetahui ? (QS 67:14)
Dapat kita lihat pada isi Al-Qur’an tentang ciri-ciri kepribadian manusia, faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian dan mengakibatkan penyimpangan, penyakit kepribadian, serta cara terapi dan pengobatan penyimpangan kepribadian begitu juga didalam isi hadis.
Fitrah Manusia
Dalam karakter penciptaan manusia telah terpadu antara sifat materi dan ruh, antara sifat hewan dan malaikat, antara kebutuhan-kebutuhan dan motivasi-motivasi fisiologis dan psikologis untuk meninggikan jiwa dan ruh.
Manusia dilahirkan dalam keadaan membawa fitrah, yang dimaksud fitrah adalah agama yang lurus, potensi untuk mengenal dan mentauhidkan allah, cenderung kepada kebenaran, dan tidak mengalami penyimpangan. Begitu pula seperti sabda nabi yang diriwayatkan oleh abu hurairah yang berbunyi bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah.
Kesiapan yang bersifat fitrah perlu dipupuk dan dikembangkan melalui proses pendidikan dan pengajaran agar fitrah tersebut terlepas dari segala pengaruh buruk, baik pengaruh tersebut dari lingkungan masyarakat maupun lingkungan keluaraga, sehingga fitrah tersebut tetap lurus dan tidak menyimpang/ mengalami penyimpangan yang tidak diinginkan.
Dengan adanya fitrah manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan manusia itu sendiri yang berhak menentukan ingin memilih yang mana diantara dua hal tersebut, seperti dalam firman allah yang berbunyi: Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS 90:10)
Juga dalam firmannya : Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.(QS 76;3)
Rasul juga telah bersabda bahwa: Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas dan sesuatu yang haram juga telah jelas.
Tapi dalam diri manusia dengan adanya fitrah tersebut akan cenderung berbuat baik dan mencari ketenangan jiwa , dan setiap manusia yang melakukan keburukan, jiwa mereka akan terasa terusik dan tidak akan mendapatkan ketenangan.
Keseimbangan dalam Kepribadian
Dalam diri manusia akan selalu ada pertarungan antara tuntutan tubuh dan ruh. Dan dalam kondisi seperti ini , seringkali manusia tidak mampu memelihara keseimbangan dalam batas yang wajar. Terkadang manusia lebih memilih untuk mengikuti tuntutan tubuhnya dan mengabaikan tuntutan ruhnya. Namun terkadang manusia pula lebih mengutamakan tuntutan ruhnya dan mengabaikan tuntutan tubuhnya. Kedua kondisi ini sama-sama menyimpang dari fitrah yang ia miliki dan dalam kondisi seperti inilah pribadi manusia menjadi tidak seimbang.
Cara terapi dalam menaggulangi ketidak seimbangan hal tersebut dengan cara mengambil jalan tengah dalam memuaskan kebutuhan tubuh dan ruh atau kebutuhan material dan spiritual tidak berlebihan dan dalam batas-batas yang wajar.
Islam menginginkan keseimbangan sempurna dalam diri manusia. Buktinya islam meniadakan beban ibadah fardhu pada seseorang yang karena melaksanakannya ia malah mengalami bahaya fisik. Seperti contoh , islam memerintahkan seseorang untuk tidak berpuasa ketika ia dalam kondisi sakit atau dalam perjalanan yang melelahkan dan masih banyak contoh yang lain.
Perbedaan Individu
Perbedaan individu diantara manusia yaitu misalnya perbedaan warna kulit, logat bicara, kemampuan fisik, kecerdasan, kemampuan belajar. Dengan mengetahui perbedaan individu ini, diharapkan bisa mengarahkan masing-masing individu pada jenis pendidikan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, dan menempatkan individu sesuai dengan kemahirannya masing-masing.
Seperti dalam firman allah dan hadis nabi juga menjelaskan bahwa allah menciptakan manusia itu dengan berbagai macam perbedaan yaitu perbedaan warna kulit, perbedaan tabiat dan etika , karakter, temperamen dan emosi manusia.
Menurut Mendel ada semacam perpindahan gen warna kulit orang tua pada pembentukan janin. Ivan Pavlov dan Calvin Hall menjelaskan bahwa ada perbedaan temperamen dan emosi pada binatang yang disebabkan adanya perbedaan fisik dan susunan anatomi tubuh.
Dalam diri manusia sering kita jumpai adanya perbedaan tinngkat temperamen dan emosi , ada orang yang cepat emosi dan mudah tersinggung ada juga yang tenang dan tidak mudah terpancing emosi. Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan jaringan syaraf dan ukuran kelenjar.
Seperti pada potongan sabda Rasulullah yang berbunyi kerjakanlah semampu kalian, menunjukkan bahwa rasul begitu memperhatikan adanya perbedaan individu pada setiap orang, dalam arti beliau menyuruh umatnya untuk mengerjakan perintah berdasarkan kemampuan masing-masing.
Perbedaan Tingkat Kecerdasan
Ada perbedaan tingkat keceredasan pada setiap individu. Kecerdasan merupakan kemampuan rasio secara umum. Kecerdasan mengandung beberapa kemampuan yang lebih spesifik, seperti kemampuan memahami, berfikir dan kemampuan untuk belajar.
Ada dalam salah satu hadis rasul menggambarkan perbedaan kemampuan manusia untuk memahami dan mempelajari sesuatu. Kemampuan inilah yang disebut dengan kecerdasan. Rasulullah membagi tingkat kecerdasan manusia menjadi tiga bagian:
1. Manusia yang tingkat kecerdasannya seperti tanah subur.
Yaitu manusia yang mampu menyerap ilmu, menghafal, mengamalkan dan mengajakannya kepada orang lain. Sehingga ilmu itu bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.
2. Manusia yang tingkat kecerdasannya seperti tanah gersang yang masih bisa menyimpan cadangan air.
Yaitu manusia yang mampu memahami ilmu dan mampu mengajarkannya kepada orang lain, hanya saja ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri.
3. Manusia yang tingkat kecerdasannya seperti tanah tandus yang sama sekali tidak bisa menyerap air.
Yaitu manusia yang tidak bisa memahami ilmu dan juga tidak bisa mengajarkannya kepada orang lain.
Dalam hadis lain Rasul menjelaskan bahwa dalam dunia mengajar setiap pengajar harus juga memperhatikan adanya tingkat perbedaan kecerdasan dalam diri peserta didiknya dan setiap pengajar harus mengajak bicara dan mengajarkan materi pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan nalar peserta didiknya.
Perbedaan Gejolak Emosional
Rasulullah membagi manusia berdasarkan gejolak emosinya menjadi tiga golongan:
a. Manusia yang tidak mudah marah, jarang sekali marah. Manusia yang seperti ini termasuk golongan manusia yang paling utama.
b. Manusia yang cepat marah hanya gara-gara urusan yang remeh, tetapi juga bisa cepat meredam amarahnya.
c. Manusia yang cepat marah dan tidak mudah menghentikan kemarahannya. Ia hanya akan mampu meredam amarahnya jika sudah cukup lama berlalu. Manusia ini termasuk pada golongan yang paling buruk.
Peran Hereditas dan Lingkungan dalam Perbedaan Individu
Ada sejumlah peneliti yang menetapkan bahwa hereditas (keturunan) merupakan faktor dominan dalam pembentukan perbedaan individu, sementara penelitian yang lain menganggap lingkunganlah yang merupakan faktor dominan. Yang jelas hereditas dan lingkungan sama-sama memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk perbedaan individu baik itu cirri-ciri fisik maupun cirri-ciri intelektual.
Dalam beberapa hadis Rasulullah saw mengisyaratkan adanya pengaruh hereditas dan lingkungan pada pembentukan perbedaan individu.
Beberapa Tipe Kepribadian
Al-qur’an telah mengklasifikasikan manusia berdasarkan parameter keimanan menjadi tiga kelompok yaitu orang-orang beriman, orang-orang kafir, dan orang-orang munafik. Sementara Rasulullah mengklasifikasikan manusia berdasarkan parameter keimanan menjadi empat golongan yaitu orang-orang mukmin, orang-orang kafir, orang-orang munafik dan orang yang hatinya bercampur antara keimanan dan kemunafikan.
Rasulullah bersabda “ Hati itu ada empat macam : hati ajrad didalamnya ada pelita yang memancarkan cahaya: hati aghlaf , terselubungi sampulnya; hati mankus; dan hati mushfah merupakan hati yang mengandung unsur keimanan dan kemunafikan.
Didalam hadis yang lain rasul membagi manusia berdasarkan parameter keimanannya menjadi dua yaitu manusia mukmin dan manusia kafir. Dari masing-masing pembagian utama ini Rasul kembali membaginya menjadi dua:
Pertama mukmin orang yang sudah terlahir sebagai mukmin sehingga ia akan berpegang kepada keimanannya sampai meninggal dunia.
Kedua mukmin yang terlahir dikomunitas kafir. Mulanya ia terlahir sebagai seorang kafir namun setelah itu beriman dan meninggal dunia sebagai orang mukmin.
Begitu juga dengan kafir, ini juga dibagi menjadi dua:
Pertama orang kafir yang terlahir sebagai orang kafir dan meninggal dunia dalam keadaan kafir.
Kedua orang kafir yang terlahir dikomunitas mukmin.
Pembentukan Kepribadian
Keimanan merupakan suatu yang akan mengarahkan dan membentuk perilaku seseorang, baik ketika ketika berinteraksi dengan tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Dalam pandangan islam, orang yang dianggap paling baik adalah orang yang paling kuat imannya dan takwanya. Hanya ketakwaan dan keimanan saja yang akan dipertimbangkan untuk menentukan baik buruknya seseorang.
Bahwa setiap manusia harus meyakini bahwa Allah tuhan kita hanya satu tidak ada sekutu baginya, dan kita sebagai ,manusia harus selalu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya , karena dalam pandangan islam, nilai manusia ditentukan oleh derajat keimanan, ketakwaan, amal shalih, dan akhlaknya. Kedudukan manusia tidak didasarkan pada garis keturunan, harta, kekayaan, pangkat, ataupun penampilan yang menarik.

Rabu, 02 Juni 2010

MASA PERTUMBUHAN DALAM TINJAUAN HADITS

Asal mula penciptaan manusia adalah dari saripati air yang hina, nuthfah, dari mani yang ditumpahkan, yang kemudian membuahi sel telur yang berukuran sangat kecil dalam saluran indung telur. Kemudian menjadi nuthfah yang yang bercampur, lalu pindah ke rahim dan menempel pada dinding rahim , tumbuh sedikit demi sedikit sampai membentuk organ tubuh yang terdiri dari tulang berbungkus daging, hingga akhirnya tercipta organ tubuh secara lengkap.Jika manusia mampu nerenungkan fase-fase yang dilalui, pasti aia akan bersujud kepda Allah Ta’ala, bertasbih memujiNya serta mengakui kekuasaanNya, seperti dalam firmanNya :


“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang yang apabila diperingtkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka tersungkur sujud dan bertasbih serta memuji TuhanNya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. “ (QS 32 : 15)
Sperma yang keluar sekali saja sudah mengandung sekitar dua ratus akan meluncur dengan kekuatan tinggi ke saluran indung telur, sementara yang sampai ke ovum hanya memiliki kesempatan 1,5 % untuk membuahi ovum. Karena menurut studi mutakhir, hanya satu spermatozoa yang berhasil membuahi ovum dalam indung telur. Rasulullah telah mengisyaratkan hakikat ini dalam sabdanya, “Tidak setiap mani bisa menjadi anak “

Perkembangan pada Fase Janin

Proses pencampuran antara spermatozoa dengan ovum telah diisyaratkan Allah dalam firmanNya :” Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. “ (QS 76:2)
Berikut adalah fase yang dilalui dalam perkembangan janii yang terdapat dalam rahim seorang ibu
- Fase Oksidasi
Setalah terjadi proses pembuahan, ovum yang telah dibuahi terbelah menjadi dua sel. Kemudian sel itu terbelah lagi menjadi empat sel. Proses ini terus berlanjut sampai 72 jam sehingga ukurannya hanya sebesar oksida. Kemudian ukuran inipun bertambah besar hingga menjadi butiran spora. Butiran spora akan terus bergerak kedalam saluran indung telur dibawah pengaruh butiran-butiran lembut yang berada dalam saluran indung telur. Setelah itu ia sampai kerahim dan menempel di dinding rahinm, setelah bergerak selama kurang lebih lima hari sampai satu minggu.
- Fase Embrio
Tahapan embrio mulai mengalami perkembangan pada minggu kedua, yakni mulai proses pembuahan sampai terbentuknya lapisan luar(eksodermis) dan lapisan dalam(insodermis). Pada minggu ketiga terbentuk lapisan bagian tengah(mizodermis). Pada hari kedua puluh atau kedua puluh satu barulah terbentuk gumpalan organ fisik pada dua sisi embrio yang kemudian menjadi urat punggung.
- Fase mudhghah / mudhghah ghairu mukhallaqah
Gumpalan organ fisik akan terus terbentuk sehingga mencapai tiga puluh hari. Belum terjadi pembentukan sebuah organ atau system fisik apapun sampai minggu keempat berakhir.
- Fase mudhghah mukhallaqah
Pada fase inilah terjadi proses pembentukan organ fisik, yakni mulai minggu kelima. Proses pembentukan organ fisik ini kira –kira berakhir sampai penghujung bulan ketiga. Tulang belulang dan otot mulai terbentuk pada minggu kelima dan enam. Kemudian tulang belulang ini dibungkus dengan otot pada minggu keenam dan ketujuh.
Embrio pertama kali bisa bergerak pada akhir bulan ketiga dan awal bulan keempat . Denyut jantung berfungsi pada awal bulan keempat. Sedangkan perkembangan embrio berkembang sempurna adalah sejak bulan keempat, dan sejak saat itulah embrio sudah mampu mendengar suara yang berada diluar.
Allah berfirman : “ Hai manusia jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiaanya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian ( dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang di wafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulunya telah di ketahuinya…(QS 22:5)
Dalam ayat ini Alquran mengisyaratkan adanya fase-fase pembentukan janin : yaitu fase nuthfah, fase ‘alaqah, fase mudhghah, kemudian berubah bentuk menjadi bentuk lain dengan ditiupkan ruh padanya, maka dimulailah denyut kehidupan, ia mempunyai pendengaran, penglihatan dan dpat bergerak.
Hudzaifah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Jika tahapan nuthfah sudah mencapai empat puluh dua hari, Allah mengutus satu malaikat yang kemudian membentuknya, menciptakan pendengaran , penglihatan, kulit, daging dan tulangnya. Kemudian malaikat itu berkata, “ Ya Tuhan dijadikan laki-laki ataau perempuan?Maka Tuhan akan memutuskan sesuatu yang Dia kehendaki dan malaikat akan menulis ketentuan itu. Setelah itu malaikat kembali berkata, “ Ya Tuhanku, kapan ajalnya? Maka Allah akan berfirman sesuai yang dengan apa yang Dia kehendaki dan malaikat menulisnya. Lalu malaikat berkata lagi, “ Wahai Tuhanku, rezekinya?” Tuhanku akan menentukan sesuatu yang Dia kehendaki dan malaikat yang akan menulisnya,. Barulah setelah itu malaikat tersebut keluar dari membaca lembar catatan ditangannya. Ia tidak akan menambah atau mengurangi sesuatu yang diperintahkan kepadanya.”
Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Sungguh proses penciptaan salah seorang diantara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya. Ia mengalami fase nuthfah selama empat puluh hari, sebagai ‘alaqah selama empat puluh hari, sebagai mudhghah selama empat puluh hari. Kemudian ada malaikat yang dikirim untuk meniupkan ruh padanya dan diperintahkan untuk empat hal : rezekinya, ajalnya, amal perbuatanya, dan sebagai orang yang celaka atau bahagia”.
Ada kesamaan yang bisa diambil dari kedua hadits tersebut diatas adalah terjadinya perubahan penting pada embrio dimulai setelah empat puluh hari pertama.juga sama-sama menerangkan kalau malaikat Allah telah diutus untuk mengurusi perkembangan embrio pada fase-fase tersebut.
Adapun perbedaannya adalah bahwa hadist riwayat Hudzaifah mengisyarakatkan permulaan proses pembentukan embrio pada hari keempat puluh, sementara hadist riwayat Ibnu Mas’ud menerangkan tentang waktu sempurnanya penciptaan embrio dan ditiupkannyaruh pada janin setelah seratus dua puluh hari dari awal proses penciptaan tahapan nuthfah dalam perut ibu.






Pendengaran dan Penglihatan

Indra pendengaran mulai tumbuh sempurna pada embrio sejak bulan keempat, sehingga janin dalam perut ibu sudah mampu mendengar suara yang ada diluar layaknya bayi yang baru saja dilahirkan, beda dengan penglihatan yang baru akan mampu akan melihat dengan sempurna setelah sekitar usia enam bulan. Dalam proses belajar fungsi pendengaran memang dianggap juga lebih penting dari pada fungsi penglihatan.

Lelaki dan Perempuan

Salah satu fenomena menarik untuk diamati adalah kenyataan bahwa awal masa dapat dibedakannya jenis kelamin janin adalah minggu ketujuh sebelum berakhir minggu kedelapan. Saat itu Allah mengutus malaikat untuk membentuk janin. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist Hudzaifah.

Perkembangan Pascalahir

Para psikolog telah membagi tahap perkembangan pada anak menjadi beberapa fase :
1. Fase Menyusu
Di mulai sejak lahir sampai usia dua tahun. Sebagian psikolog ada yang membagi fase ini menjadi dua bagian. Pertama , fase bayi yang baru berusia dua minggu pertama setelah kelahiran. Kedua , fase menyusu yang dimulai sejak dua minggu pertama sampai usia dua tahun. Proses menyapih pada umumnya diterapkan setelah anak berusia dua tahun, sesuai dengan yang telah Allah firmankan “ Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”
2. Fase kanak-kanak awal
Fase ini dimulai sejak usia dua tahun sampai enam tahun.
3. Fase kanak-kanak menengah
Di mulai sejak usia enam tahun sampai Sembilan tahun, fase ini juga merupakan masa awal mereka bergabung dengan komunitas social ditengah-tengahsekolah dan di antara staf pendidik, wawasan anakpun mulai terbuka, mulai memasuki masa tamyiz(mampu membedakan hal yang baik dan buruk)
4. Fase kanak-kanak akhir
Fase ini dimulai sejak usia Sembilan tahun sampai dua belas tahun.
Merupakan masa perkembangan kecerdasan anak, yang merupakan penentuan separo kecerdasan seorang anak pada masa mendatang, keingin tahuannya tentang sekitarnya terus senantiasa bertambah serta kemampuan berpikirnyapun terus berkembang.
Fase inipun sangatlah penting untuk mendidik anak tentang nilai-nilai etika dan kaidah-kaidah dasar agama. Rasulullhapun juga menyuruh agar anak-anak dibiasakan dengan ritual shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan jika anak tidak mau melakukanya maka tindakan tegas secara fisik namun tidak berbahayapun perlu diambil.
Penerapan pemberian hukuman dan penghargaanpun pada fase ini sudah diberikan.





Pubertas

Para psikolog telah membagi lagi masa puber menjadi tiga bagian sebagai berikut :
1. Masa puber awal.
Masa ini dimulai sejak usia dua belas tahun sampai usia empatbelas tahun
2. Masa puber pertengahan.Masa ini dimulai sejak usia lima belas tahun sampai usia tujuh belas.
3. Masa puber akhir
Masa ini dimulai sejak usia delapan belas tahun sampai umur dua puluh satu tahun.

Pubertas merupakan fase yang penting dan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan setiap individu. Pada masa itulh terjadi perubahan pada organ fisik. Perubahan yang paling kentara adalah mengalami masa baligh yang menandai kematangan-kematanganorgan –organ seksual. Masa puber pada anak putra akan ditandai dengan keluarnya air mani ketika ia mimpi indah. Selain itu juga ditandai dengan tumbuhnya rambut kemaluan, kumis, jenggot, rambut ketiak, perubahan suara, serta kecenderungannya untuk berbuat keras. Sedangkan tanda baligh yang ada pada anak perempuan adalah ditandai dengan keluarnya darah haidh serta di barengi juga dengan menonjolnya buah dada, tumbuhnya rambut kemaluan, tumbuh rambut ketiak,tulang pinggul dan pantan semakin melebar, kedua paha semakin menggumpal, suaranya berubah, kecendurungannys untuk lembut

Beberapa Tuntutan Perkembangan

Para psikolog memberikan perhatian serius pada masalah tuntutan perkembangan pada fase kanak-kanak dan pubertas. Tuntutan merupakan beberapa hal yang yang wajib dipelajari anak agar perkembangan psikologis mereka bisa terbentuk dengan sempurna.
Beberapa tuntutan perkembangan yang penting pada kedua fase tersebut menurut para psikolog adalah
1. Adanya rasa aman pada fase kanak-kanak,
Ini bisa dimunculkan dengan beberapa factor, diantaranya adalah adanya rasa cinta, kasih, lemah lembut, interaksi yang baik, perhatian, penghargaan,
2. Mempelajari kemampuan dasar baca tulis
3. Mengasah kecerdasan dan mempelajari berbagai ilmupengetahuan maupun budaya
4. Kemapuan motorik dan memelihara kesehatan fisikmelalui permainan yang positif dan kegiatan olah raga
5. Pembiasaan mengerjakan ibadah sejak usia kecil sampai si anak benar-benar terbiasa untuk melakukannya.
6. Untuk mengendalikan insting,motivasi dan emosi